Selasa, 16 Desember 2014

Resume materi perkuliahan sejarah lisan



SEJARAH LISAN
A.    Pengertian Sejarah Lisan dan Tradisi Lisan
Sejarah lisan atau oral history dapat diartikan sebagai :
·         Cara atu metode pengumpulan dan penyimpanan Informasi kesejarahan yang didalamny berisi rekaman wawancara dari orang-orang tentang kejadian masa lampau dan pandangan hidupnya.
·         Sebuah koleksi atau kumpulan yang sistematis dari kesaksian kehidupan seseirang mengenai pengalaman hidup.
·         Sejarah lisan bukan cerita rakyat, gossip, desas-desus, ataupun rumor.
Sejarah lisan tidak diperoleh dengan sendirinya melainkan dicari dengan sengaja melalui metode wawancara.  Sejarah lisan telah dimulai pada abab 5 SM yang digunakan oleh Herodotus. Ia menggunakan saksi mata dnegan menggunakan wawancara silang.  Sejarah lisan sebagai metode sudah dipakai penulis sejarah Romawi. Dan ditulis pada abad pertengahan hingga Modern. Walaupun pada abad 19 sejarah lisan sempat mendapatkan keritikan dari Leopold von Ranke yang lebih mementingkan dokumen tertulis sebagai sumber primer, sejarah lisan pada abad 20 mendapatkan kembali kekuatanya setelah muncul teknologi-teknologi perekan seperti tape. Dengan teknologi baru ini kegitan wawancara dan perekaman semakin mudah dilakukan.
 Tujuan penulisan sejarah dengan metode sejarah lisan adalah ingin mengungkap peristiwa-peristiwa sejarah yang tidak diungkapkan melalui dokumen terlulis. Selain itu dengan sejarah lisan kita dapat mengungkap peristiwa dengan mendetail dari pelaku. Dapat megnungkap peranan pelaku dan menggali apa yang dirasakan pelaku pada saat peristiwa.  Sejarah lisan Ingin medobrak tradisi penulisan sejarah yang ada yaitu dari atas kebawah menjadi dari bawah keatas. Artinya ingin mengubah penilisan sejarah yang biasanya menulis tentang peranan tokoh besar yang berkuasa menjadi peranan tokoh-tokoh kecil yang bisa memberi  pengaruh terhadap perubahan besar yang terjadi.







































Rounded Rectangle: SEJARAH LISAN



Rounded Rectangle: Awal abad 20






Rounded Rectangle: No document  No history
Rounded Rectangle: Political History. Sejarah Elit
Rounded Rectangle: Isinya tentang sejarah raja-raja











Oval: Allan Nevis
Rounded Rectangle: Mengemukakan Sejarah Lisan











Oval: Vansina

Rounded Rectangle: Sejarah orang kecil





Rounded Rectangle: Sumbernya lisan atau wawancara


Oval: Paul Thomson


 

Sejarah lisan berbeda dengan Tradisi Lisan. Jan Vasina member batasan sejarah lisan atau oral testimony sebagai oral testimony transmitted verbally, from one generation to the next one or more ( Testimoni lisan yang disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya atau lebih). Dalam tradisi lisan tidak termasuk kesaksian mata yang merupakan data lisan. Juga disini tidak termasuk rerasan masyarakat yang meskipun lisan tetapi tidak ditularkan dari satu generasi ke generasi lain. Tradisi lisan dengan demikian hanya terbatas pada kebudayaan lisan dari masyarakat yang belum mengenal tulisan, tradisi lisan merupakan sumber sejarah yang belum mengenal masa lampau.
Tradisi lisan menjadi sumber penulisan bagi antropolog dan sejarawan. Dalam ilmu antropologi sejarah lisan sebagai sumber data bagi penelitian sudah digunakan sejak awal beridirnya ilmu itu, nnamun dalam ilmu sejarah penggunaan tradisi lisan masih merupakan hal yang baru.
SIfat dari tradisi lisan adalah turun temurun dan fungsinya adalah untuk memperkuat ikatan komunal dalam masyarakat. Tradisi lisan mengacu pada historical gossip misalnya adalah cerita tentang cikal bakal penghuni pohon dan tentang mitos. Tradisi lisan dapat diwariskan melalui keluarga yaitu dengan Adat sitiadat keluarga maupun dengan cerita dongeng. Dan dapat diwariskan melalui masyarakat dengan cara melalui adat istiadat masyarakat, pertunjukan, dan kepercayaan masyarakat.
·         Perbedaan Sejarah lisan dan tradisi lisan
Sejarah Lisan
Tradisi Lisan
·         Merupakan metode pengumpulan dan penyimpanan informasi kesejarahan
·         Tidak terbatas pada kebudayaan lisan
·         Sengaja dicari dengan teknik wawancara
·         Termasuk kesaksian mata
·         Si pencerita merupakan bagian dari peristiwa
·         Disampaikan secara langsung dari pelaku
·         Merupakan sumber bagi penelitian sejarah
·         Terbatas pada kebudayaan lisan
·         Didapat secara langsung
·         Tidak termasuk kesaksian mata
·         Si pencerita bukan merupakan bagian dari peristiwa
·         Disampaikan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya

B.     Ciri-ciri Sejarah Lisan
1.      Pencarian sumber-sumber berdasarkan sumber lisan ( oral history)
2.      Mencari kesaksian langsung
3.      Penelitian dengan menggunakan metode lisan untuk melihat kenangan
4.      Mencari informasi yang tidak ada dalam sumber tertulis
5.      Mengangkat peranan rakyat kecil

C.    Keguanaan Sejarah Lisan

1.      Sebagai Metode Tunggal
Dapat digunakan untuk mengungkap permasalahan sejarah yang tidak terungakap dalam dokumen tertulisn. Contohnya adalah dalam menuliskan biografi tokoh.
2.      Sebagai  Pelngkap Bahan Dokumenter.
Metode digunakan untuk penulisan biografi atau aouto biografi tokoh. Karena tokoh besar kegiatanya terdokumenter. Sejarah lisan digunakan sebagau pelengkap bahan tersebut dalam penulisan biografi tokoh.
3.      Sebagai Sumber Sejarah
Sebagai usaha untuk menyediakan sumber bagi peneliti. Hasilnya disedikan dalam bentuk manuskrip atau tape. Di Amerika pada 1948 didirikan “ The Oral History rojetc. Di Colombia University yang merupakan pusat koleksi Sastra, jurnalistik, ilmu politik, Hub. Internasional.
4.      Sejarah Dapat menggambarkan Substansi Penulisan Sejarah
-          Dalam penulisan sejarah kotemporer dapat menganti sejarah dari pelakunya
-          Dapat mengubah citra sejarah yang elit menjadi sejarah yang egalitan atau humanis. Memanusiakan manusia
-          Memperluas permasalahan sejarah dari sejarah local/daerah, sejarah kota, sejarah pedesaan, sejarah pertanian, sejarah kebudayaan, sejarah militer.

D.    Momori dan Sejarah Lisan.
·         Pengertian Memori
Memori adalah konsep psikologi yang berarti pengetahuan yang tersimpan dalam pikiran orang, terkait dengan cara kerja otak. Dengan momori seseorang dapat mempresentasikan pengalaman , pengetahuan, yang didapat tentang masa lampau.
·         Jenis Memori
1.      Deklaratif memori : Pengetahuan tentang  fakta-fakta
a.       Memori Episodik : Menggambarkan perjalanan kehidupan seseorang dimasa lamau baiasanya berdasarkan periodesasi
b.      Memori Sematik : Pengetahuan abstrak seperti kamus pikiran yang tidak terkait dengan peristiwa khusus.
2.      Prosedura memori :  Adalah memori yang berkaitan dengan tahapan-tahapan tertentu















Rounded Rectangle: Yang dilihat




Rounded Rectangle: Informasi atas peristiwa
Pengalaman atas peristiwa





Rounded Rectangle: Yang didengar





Rounded Rectangle: Yang dialami.










 
















Ket: Bagan tahapan memori  sebagai jejak atau bukti
·         Orang yang pernah mengalami, melihat                               Sumber sejarah lisandisaring
 dan mendengar                                                                    untuk mendapatkan fakta
·         Orang yang pernah mendapatkan cerita                                

Fakta adalah  kenyataan . Belum menjadi fakta ketika belum ada pernyataan . Jadi fakta adalah penyataan atas realita

E.     Penelitian Sejarah Lisan
Merumuskan Masalah penelitian sejarah lisan  
§  Masalah dapat diketahui dari :   
-       Pengalaman. Pengalaman diperoleh dari peristiwa yang kita alami. (Membaca Realita)
-       Membca teks atau teori dan mampu mengambil teori
-       Aktivitas diskusi atau sharing
§  Menurut Sdrian Fikers dalam peradaban pesisir, menjelaskan jika Asian Tenggara dibentuk oleh peradaban pesisir yang saling berkaitan yaitu cerita tentang panji atau hikayat panji. Artinya pada abad 17-18 erjadi kedekatan budaya antar negra-negara di Asia Tenggara. Malysia dan Indonesia mempunyai kesamaan dalam sejarah yaiyu sama-sama mempelajairi sejarah Majapahit, senghasari.
§  Metode sejarah lisan dengan menggunakan pendekatan pengalaman hidup. Dalam penelitian menggunakan wawancara hindari pertanyaan yang jawabanya “ya atau tidak”

Sumber Lisan :
§  Dalam sumber lisan , kesaksian yang benar harus memperhatikan empat syarat :
a.       Apakah sumber itu Ultimate saksi primer mampu menceritakan hal yang benar
b.      Apakah saksi primer dengan akurat melaporkan secara terperinci mengenai hal yang sedang dialami.
c.       Apakah ada dukungan secara bebas atau eksternal corroboration mengenai rincian yang sedang dialami/ disaksikan
d.      Suatu informasi, menurut penertian koroborasi harus berasal dari dua kesaksian bebas atau lebih yang tidak salaing mempengarui.
§  Kritik sejarah lisan :
a.       Reputasi
b.      Kepentingan langsung atau tidak
c.       Kronologi
d.      Ankronisme
e.       Suasana dan hubungan sosial-kultural yang telah dialami oleh si pengkisah akan mempengarui informasi yang disampaikan

F.      Persiapan dalam Penelitian Sejarah
1.      Persiapan perangkat metodologis , adalah persiapan dalam menentukan kejelasan topic, ada empat pertimbangan yang perlu dilakukan
a.       Manageable topic : topic yang diteliti dalam jangkauan kemampuan intelktual, financial dan ketersediaan waktu
b.      Obtainable topic : Pengkisah yang diperlukan untuk menggali sejarah lisan sesuai dengan topic masi hidup dan relative mudah dijangkau.
c.       Significance topic : Topik cukup penting untuk diteliti
d.      Interested Topic : Topi menari untuk diteliti
2.      Persiapan Teknis , adalah melakukan perispan terhadap topic. Dilakukan dengan
a.       Mengadakan kajian pustakan secara lengkap dan komperhensif
b.      Membuat kerangka yang akan dikerjakan
3.      Pesiapan Lapangan
a.       Persiapan observasi awal untuk mengetahui kondisi lokasi
b.      Menghubingi sumber danmenyesuaikan waktu




G.    Kritik Sejarah Lisan
1.      Reputasi atau kejujuran
2.      Kepentingan langsung atau tidak dari sipengkisah terhadap masalah atau peristiwa yang dikisahkan
3.      Kronologi
4.      Ankronisme
5.      Suasana dan hubungan sosial-kultural yang telah dialami oleh pengkisah akan mempengaruhi Informasi yang disampaikan
H.    Kritik isi kisan
1.      Apakah terhadap konsistensi
a.       Cross Cheking / Koraboration
b.      Tempatkan rekonstruksi sementara tersebut dama konteks sejarah yang luas





                                   

Sejarah lisan kabupaten klaten



SEJARAH LISAN DAN TRADISI LISAN
KABUPATEN KLATEN

Sejarah Lisan Asal Mula Nama Klaten
Kabupaten Klaten dahulu adalah daerah Swapraja Surakarta.  Sekarang Kabupaten Klaten merupakan wilayah Eks Karisidenan Surakarta. Kabupaten Klaten memeliki wilayah yang sangat strategis yaitu diantara dua kota besar yaitu Kota Yogyakarta dan Kota Surakarta. Secara kultural Klaten merupakan wilayah yang terletak di Kerajaan Mataram Islam yang kemudian karena Perjanjian Giyanti kerajaan tersebut terpecah menjadi dua yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Untuk mengetahui asal mula nama  Kabupaten Klaten hanya di ceritakan melalui mulut kemulut dari orang tua kepada anaknya, dari guru kepada muridnya. Nama Kabupaten Klaten di ceritakan diambil dari nama Kyai Melati Sekolekan yang merupakan orang yang sangat berjasa membuat daerah yang awalnya hutan menjadi sebuah perkampungan yang aman dan tentram sehingga banyak orang yang datang kedaerah tersebut. Berikut cerita tentang asal mula nama Klaten.
Konon menurut cerita, Daerah Klaten kota dahulu adalah sebuah hutan belantara atau yang biasa di sebut alas dalam bahasa Jawanya.  Di daerah ini ada seorang pemuda yang bernama Melati Sekolekan yang sedang mengembara dan tinggal untuk beberapa waktu lamanya. Diceritakan Melati Sekolekan adalah seseorang yang sangat sakti ilmunya dan sangat di takuti di daerah tersebut. Menurut tradisi zaman dahulu, seseorang selalu ingin mengambara mencari kesaktian dan  mengadu kesaktianya dengan orang lain untuk medapakan gelar dan di hormati. Begitu pula Melati Sekolekan yang selalu ingin mengadu kesaktiaanya saat bertemu orang dalam pengembaraanya.
Setiap mengembara dan bertemu orang yang dirasanya memiliki kemampuan lebih, Melati Sekolekan selalu menantangnya berkelahi. Banyak orang yang sudah bertarung dengan dia dan banyak orang yang mengakui kesaktianya.   Suatu Ketika sunan Kalijaga, salah satu dari ulama dari Demak yang menyebarkan agama Islam di Jawa atau yang sering disebut dengan Walisongo melintasi tempat itu dan bertemu dengan Melati Sekolekan.
Seperti biasa jika bertemu dengan seorang pengembara Melati Sekolekan selalu ingin menantang  beradu kesaktian, Begitu pula saat bertemu dengan Sunan Kalijaga yang melintasi tempat itu. Dengan sedikit arogan Melati Sekolekan mengajak Sunan kalijaga bertanding. Namun akirnya pertarungan di menangkan oleh Sunan Kalijaga.
Melati Sekolekan merasa ilmu dan kesaktianya masih jauh dibawah Sunan Kalijaga, Oleh karena itu ia memohon kepada Sunan Kalijaga, Agar Sunan Kalijaga mau mengangkatnya menjadi murid. Sunan Kalijaga dengan penuh kebijaksanaan pun memaafkan sikap arogan Melati dan akirnya mengabulkan keinginan Melati Sekolekan ddan menjadikanya Murid.  Dan Melati Sekolekan pun memeluk agama Islam.
Dengan belajar beberapa ilmu agama dan ilmu untuk menjaga diri akirnya Melati Sekolekan menjadi orang yang berbudi sangat baik selain itu ia juga dikenal sebagai orang yang sakti. Oleh karena itu orang-orang di pedukuhan tempat ia tinggal menyebutnya sebai Kyai Melati Sekolekan. Karena Ilmu agama yang ia kuasai dari hasil bergutu pada sunan kalijaga dan kesaktianya pedukuhan yang di tinggalinya mejadi tentram dan aman. Para penjahat tidak mau melewati tempat itu karena segan dengan Kyai Melati Sekolekan.
Maka dalam waktu yang singkat darah tempat tinggal Kyai Melati Sekolekan menjadi daerah yang sangat ramai. Bagi warga Kyai Melati Sekolekan adalah sosok yang sangat di cintai rakyat. Hingga akhir hayatnya ia selalu mengabdi untuk rakya. Warga sangat kehilangan sosoknya. Maka untuk mengenang kepergian Kyai Melati Sekolekan Warga menamai desa mereka dengan nama Klaten.  Nama Klaten diambil dari Nama Melati. Karena orang Jwa susah menyebutnya makan sering terjadi perubahan pengucapan menjadi Klaten.  Sedangkan nama Belakang Kyai Sekolekan diambil untuk dijadikan nama desa tempat jenazah Kyai  Melati Sekolekan di kebumikan.
·         Munculnya Kabupaten Klaten berdasarkan catatan tertulis
Telah di uraikan diatas cerita bagaimana asal mula nama kabupatenn Klaten yang di ceritakan dari mulut kemulut. Namun dari sumber tertulis seperti prasasti dan sumber-sumber lain seperti candi menunjukan jika jauh sebelum muncul suatu kesatuan geopolitik yang bernama Klaten yang diambil dari nama Kyai Melati Sekolekan. Wilayah Klaten merupakan wilayah pendukung peradaban Hindu- Buddha di Indonesia.
Klaten merupakan daerah yang sudah sejak lama di tinggali penduduk. Bahkan sejak jaman Hindu-Buddha. Pada masa Hindu-Budha Klaten memegang peranan yang cukup besar. Pada zaman itu Klaten masuk kedalam Kerajaan Mataram kuno sebelum berpindah ke jawa timur. Banyak bukti sejarah yang ditemukan di Klaten misalnya candi, prasasti, dan benda-benda dari logam. Selain itu ada beberapa nama daerah yang keberadaanya dapat di telusuri dan memiliki kedekatan penamaan dengan nama daerah pada zaman kerajaan seperti seperti Puluwatu (Sekarang Desa Puluh Watu), Gumulan (Desa Gumulan, Kalikotes), Wadihati (DesaWedi), Mirah-Mirah (Desa Muruh) dan Upit (Ngupit Kecamatan Ngawen). Hal ini menunjukan peranan Klaten dalam peradaban Hindu-Buddha. Selain itu juga terdapat prasasti yang dapat menguak peranan Kabupaten Klaten dalam peradaban yaitu prasasti Upit yang dikeluarkan oleh Rakai Kayuwangi sebagai bukti pendirian desa Upit sebagai desa pardikan dengan bertanggal 11 Nopember 866 masehi
Pada masa kerajaan Islam seperti Mataram, Pajang dan Demak, daerah Klaten termasuk kedalam daerah Negaragung atau Negara Agung.  Banyak kisah-kisah tentang Klaten yang terdokumentasikan baik dalam bentuk babad seperti babad tanah jawa maupun babad mataran juga dalam cerita-cerita rakyat yang di sampaikan secara lisan. Namun hingga akir abad 18 belum ada penyebutan nama Klaten secara resmi.[1]
Penyebutan Klaten secara resmi barulah dimulai pada saat pemerintahan colonial membangun membangun sebuah benteng atau dalam bahasa daerah setempat disebut dengan Loji di desa tersebut. Benteng ini dimaksudkan sebagai pusat kekuasaan pemerintahan colonial. Karena setiap pembangunan pastilah dicatata dan diarsipkan oleh pegawai pemerintahan colonial. Apalagi Benteng yang di sebut dengan Loji Klaten ini memiliki  fungsi yang sangat besar yaitu fungsi militer dan fungsi administrasi. Terlebih lagi Klaten terletak di tengah kekuasaan Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, maka segala aktifitas selalu tercatata dengan baik.[2]
Peletakan batu pertama pembangunan Benteng ini dilakukan pada 28 Juli 1804.Pendirian benteng (loji) di desa Klaten dapat dianggap sebagai awal muncul nya sebuah pemerintahan supra desa, karena benteng (loji) merupakan symbol kekuasaan, baik tradisional maupun kolonial. Setelah pembangunan benteng ini Klaten menjadi tempat yang memegang peranan sangat penting.
Berdasarkan pada peristiwa awal munculnya nama Klaten dalam tulisan sejarah  yang dalam hal ini adalah penulisan sejarah Kolonial yang dianggap sebagi penulisan yang lebih ilmia, dan asas kontinuitas peristiwa- peristiwa sejarah yang ada di Klaten dan  dengan  dukungan sumber sejarah tertulis tentang pendirian Benteng Klaten juga menjadi dasar dipilihnya tanggal 28 Juli 1804 sebagai harilahirnya Kabupaten Klaten.

·         Sunan Bayat sebagai Pendiri Kecamatan Bayat kabupaten Klaten.
Bayat adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Klaten. Di kecamatan ini terdapat sebuah makam yang di keramatkan hingga saat ini. Makan itu sering dikunjungi oleh para peziarah . Makam itu adalah makan Ki Ageng Pandanaran.  Ki Anggeng pandanaran inilah yang disebut pendiri kecamatan Bayat.
Menurut cerita Ki Ageng Pandanaran atau yang bernama asli Pangeran Mangkubumi adalah  putra dari Bupati Semarang yang pertama,  Harya Madya Pandan.  Setelah ayahnya meninggal Ia mengantikan kedudukan ayahnya menjadi bupati Semarang yang kedua dengan gelar Ki Ageng Pandaran. Pengangkatan ini merupakan Hasil perundingan antara Hadiwijaya yang merupakan penasehat Kerajaan Demak bersama Sunan Kali jaga.
Ki Angeng Pandanaran dengan keras berusaha melanjutkan kerja keras ayahnya. Ia memerintah dengan baik. Di sela-sela pemerintahanya ia juga menyebarkan Agama Islam dan mengembangkan kegiatan keagamaan seperti membangun pesantren dan mengadakan pengajian. Pemerintahanya dianggap sebagai pemerintahan yang berhasil, rakyat menjadi makmur dan ia banyak dikagumi dan dipuja puja oleh rakyatnya
Pujian-pujian yang diberikan itu membuatnya berubah. Ia menjadi orang yang sombong dan kikir. Ia gemar mengumpulkan kekayaan. Ia lalai menjalankan tugas-tugasnya baik tugas pemerintahan maupun tugas menyebarkan agama. Mengetahui bila sikap Ki Ageng Pnadanaran berubah maka Sunan Kalijaga datang memperingatkanya dengan menyamar sebaik tukang rumput.
Suatu hari Sunan Kalijaga yang menyamar sebagai penjual rumput datang ke rumah Ki Ageng Pandanaran untuk menawarkan rumput. Di sela-sela menawarkan rumput Sunan Kalijaga selalu menyisipkan nasehar agar tidak terbuai dengan kekayaan dan hal-hal duniawi. Namun bukanya sadar Ki Ageng Pandanaran justru Marah. Sunan Kalijaga dengan sabar selalu datang ke rumah Ki Ageng Pandanaran untuk menasehatinya tapi Ki Ageng Pandanaran tidak kunjung sadar.
Sunan Kalijaga semakin kawatir jika kelakuan Ki Ageng pandanaran akan menjadi semakin parah maka Sunan Kalijaga pun bertekat menunjukan kesaktianya untuk menyadarkan Ki Ageng Pandanaran. Suatu hari Sunan Kalijaga datang ke kediaman Ki Ageng Pandanaran dan mencangkul tanah. Setiap tanah yang dicangkulnya berubah menadi emas. Ki Ageng Pandanaran sangat takjup dengan apa yang dilihatnya. Akirnya penjual rumput itu membukan penyamaranya. Dan betapa terkejutnya Ki Ageng Pandanaran tau jika penjual rumput itu Sunan Kalijaga ia pun bersujud meminta ampun dan bertaubat.
Ki Ageng Pandanaran meminta agar Sunan Kalijaga menerimanya menjadi muridnya dan ia pun diterima menjadi murid. Sunan Kali jaga memerintahkan Ki Ageng Pandanaran untuk menemuinya di gunung Jabalkat dengan meninggalkan semua hartanya. Akirnya Ki Ageng Pandanaran pergi bersama istrinya. Namun istrinya tidak mematuhi perintahnya dan membawa semua perhiasanya didalam tongkatnya.
Dalam perjalanan sang istri selalu tertinggal dibelakang karena terlalu berat membawa tongkat yang berisi perhiasan. Ki Ageng Pandanaran barusadar ketika sang istri berteriak meminta pertolongan dengan berkata “ Kang mas tulung wonten tiang Salah tiga” yang artinya kang mas tolong ada tiga orang perampok.  Ki Ageng Pndanaran menegur para perampok  “ Hai manusia mengapa kamu nekat seperti kambing domba?” Dan seketika itu wajah sang kepala perampok yang bernama Sambangdalan berubah menjadi seperti domba. Mengalami kejadian yang demikian mereka pun bertobat. Namun wajak Sambangdalan tidak dapat berubah . Sambangdalan pun mengikuti Ki Ageng Pandanaran dan menjadi pengikutnya yang kemudian dikenal dengan nama Syehk Domba.
Setelah itu, Ki Ageng Pandanaran bersama sang istri melanjutkan perjalanan. Tak beberapa lama kemudian, tibalah mereka di Gunung Jabalkat.Kedatangan mereka disambut baik oleh Sunan Kalijaga.Sejak itulah, Ki Ageng Pandanaran berguru kepada Sunan Kalijaga.

            Ki Ageng Pandanaran seorang murid yang cerdas dan rajin. Berkat kecerdesannya, ia ditugaskan untuk menyiarkan agama Islam di sekitar daerah tersebut. Ia pun mendirikan sebuah perguruan di Gunung Jabalkat. Ajaran Ki Ageng Pandanaran yang paling menonjol dikenal dengan istilah Patembayatan, yaitu kerukunan dan kegotongroyongan.Setiap orang yang datang untuk memeluk agama Islam harus mengucapkan Sahadat Tembayat. Berkat ajaran Patembayatan, ia juga berhasil mendirikan sebuah masjid di Bukit Gala.
Selain pengetahuan agama, Ki Ageng Pandanaran juga mengajarkan cara bercocok tanam dan cara bergaul dengan baik kepada penduduk sekitarnya. Setelah itu, ia pun menetap di Jabalkat hingga akhir hayatnya. Daerah Jabalkat dan sekitarnya sekarang dikenal dengan nama Tembayat atau Bayat. Itulah sebabnya ia diberi gelar Sunan Tembayat atau Sunan Bayat. Hingga kini, makam Ki Ageng Pandanaran dapat ditemukan di atas Bukit Cakrakembang di sebelah selatan bukit Jabalkat, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.
·         Tradisi Lisan di Balik Upacara Yoqowiyu.
Yoqowiyu adalah sebuah upacara berupa penyebaran kue apem kepada masyarakat. Upacara ini diadakan setiap hari  Jum’at di Bulan Safar (ada yang menyebutkan tanggal 15 Safar). Upacara ini adalah sebuah penghormatan terhadap Ki Ageng Gribik yang telah menyebarka agama Islam di daerah tersebut.
Ki Ageng Gribik atau yan bernama asli Wasibagno Timur adalah seorang keturunan Raden Brawijaya V dari kerajaan Majapahit.  Ia adalah seorang ulama besar yang sangat di segani di daerah Klaten dan daerah di sekitarnya seperti Boyolali dan Surakarta.  Ki Ageng Gribik adalah ulama yang sangat ahli dalam berdakwah terbukti banyak masyarakat yang awalnya memeluk animisme dinamisme kumudian memeluk agama Islam.
Ki Ageng Gribik adalah orang yang sangat di segani. Ia juga mengenal Sultan Agung Hanyakrakusuma penguasa Mataram dengan baik. Suatu ketika ia juga pernah meredam pemberontakan yang akan dilakukan Adipati Palembang dengan cara halus tidak melukan peperengan dan pertumpahan darah. Karena jasanya tersebut Sultan Agung bermaksud untuk mengangkat Ki Ageng Gribig sebagai Bupati Nayaka. Namun dengan Hormat Ki Ageng Gribik menolah permintaan tersebut. Ia ingin tetap fokus untuk menyebarkan agama Islam.
Meskipun menolak, hubungan Ki Ageng Gribig dan Sultan Agung tetaplah baik, bahka semakin dekat. Karena kemudian Ki Ageng Gribig menikah dengan adik Sultan Agung yang bernama Raden Ayu Emas Winongan, dan diberikan kekuasaan penuh sebagai ulama dan pemimpin atas tanah perdikan Mutihan di Jatinom. Setelah itu ia membangun masjid Alid di daerah tersebut. Tak selang berapa lama Sultan Agung memerintahkanya membangun masjid yang lebih besar yang di sebut dengan Masjid Besar Jatinom.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Ki Ageng Gribik bukanlah orang biasa. Ia memiliki kesaktian untuk berpindah tempat dengan waktu yang singkat. Ia diceritakan ia mampu melakukan perjalanan dari tempat tinggalnya di Jatinom, ke Makkah al- Mukarromah, dalam waktu singkat.
Pada suatu Jum’at di Bulan Safar Ki Ageng Gribig kembali dari perjalanannya ke Tanah Suci. Ia membawa oleh-oleh, 3 buah makanan dari sana. Sayangnya saat akan dibagikan kepada penduduk, jumlahnya tak memadai. Bersama sang istri, ia pun kemudian membuat kue sejenis. Kue-kue inilah yang kemudian disebarkan kepada penduduk setempat, yang berebutan mendapatkannya.
Sambil menyebarkan kue-kue ini, iapun meneriakkan kata "Ya Qowiyyu", yang artinya "Tuhan, Berilah Kekuatan" atau bisa juga berarti "Allah Yang Maha Perkasa (Kuat)". Secara utuh, Ki Ageng Gribig berucap::Ya qowiyyu qowwina wal muslimin ya qowiyyu ya rozaq warzuqna wal muslimin”. Yang Artinya, Ya Tuhan Yang Maha Kuat, semoga Engkau memberikan kekuatan kepada kami semua kaum muslimin. Ya Tuhan Yang Maha Kuat dan Pemberi Rejeki, semoga Engkau memberikan rejeki kepada kami semua kaum muslimim
Penganan ini kemudian dikenal dengan nama apem, saduran dari bahasa Arab "Affan", yang bermakna Ampunan. Tujuannya, agar masyarakat selalu memohon ampunan kepada Sang Pencipta. Sejak saat itu, tepatnya sejak tahun 1589 Masehi atau 1511 Saka, Ki Ageng Gribig selalu melakukan hal ini. Ia pun mengamanatkan kepada masyarakat Jatinom saat itu, agar di setiap Bulan Safar, memasak sesuatu untuk disedekahkan kepada mereka yang membutuhkan. Amanat inilah yang mentradisi hingga kini di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, yang kemudian dikenal dengan "Yaqowiyu".
Menurut kepercayaan warga, apem tersebut sebagai syarat untuk bermacam-macam maksud. Bagi petani dapat untuk sawahnya, agar tanamannya selamat dari hama. Ada yang percaya bahwa apem tersebut akan membawa rezeki, membawa jodoh, dan lain-lain. Bahkan, ada yang percaya siapa yang mendapat banyak apem pada perebutan itu sebagai tanda akan memperoleh rezeki melimpah. Saking percaya hal itu ada yang kaul (nadar) menggelar wayang kulit, atau pertunjukan tradisional yang lain.
Pada Kamis siang sebelum apem disebar , apem disusun dalam dua gunungan yaitu  gunungan lanang  dan  gunungan wadon. Ada perbedaan antara gunungan lanang dan wadon. Gunungan wadon  lebih pendek  dan berbentuk lebih bulat. Gunungan lanang lebih tinggi dan di bawahnya  terdapat kepala macan putih dan ular. Kedua hewan itu adalah kelangenan  Ki Ageng Gribig. Macan diibaratkan Kiai Kopek yakni macan putih kesayangan Ki Ageng Gribig, sedangkan ular adalah Nyai Kasur milik Ki Ageng Gribig

Penyusunan gunungan itu juga ada artinya, apem disusun menurun seperti sate 4-2-4-4-3 maksudnya jumlah rakaat dalam shalat Isa, Subuh, Zuhur, Asar, dan Magrib. Di antara susunan itu terdapat kacang panjang, tomat, dan wortel yang melambangkan masyarakat sekitarnya hidup dari pertanian. Di puncak gunungan terdapat mustaka (seperti mustaka masjid) yang di dalamnya berisi ratusan apem.



[1] Sejarah kabupaten klaten. Web resmi kabupaten klaten
[2] Sejarah Klaten. 2010. Dinas pariwisata kabupaten Klaten.