Senin, 20 April 2015

Kemaharajaan Pabrik Karung Delnggu


CatDelanggu kota kecil yang terletak diperbatasan antara Klaten, dan Boyolali dan  Sukoharjo. Kota ini memang tidak cukup besar untuk menampung banyak penduduk dengan fasilitas yang lengkap. Namun di masa lalu kota ini menjadi salah satu penyangga perekeonomian bagi Hindia Belanda.  “Jangan salah Delanggu dulu kondang.” Kata Bapak Suradi tetua salah satu desa didaerah Delanggu.  Bagaimana tidak kondang, di kota yang tidak terlalu besar ini pernah berdiri pabrik karung terbesar di asia tengga. “Pabrik nya sangat besar wilayah operasinya sampai wonosari, Juwiring, Polan harjo. Semua sawah penduduk di tanamai rami sebagai bahan utama pembuatan karung goni” Tmbah bapak Suradi mengenang kejayaan pabrik karung.
Pabrik Karung Delanggu memang terletak dipusat kota. Letaknya sangat strategis yaitu 10 m dari jalan Solo-Yogya. Melihat dari letaknya pastilah kita sudah bisa menebak seberapa penting bangunan tersebut dimasa lalu. Namun saat menengok kedalam kita hanya bisa melihat kumpulan rumah-rumah tua tak berpenghuni dengan halaman yang sudah  ditumbuhi semak dan ilalang. Bangunan ini kental dengan aksen belanda. Dengan bentuk segi lima untuk beranda depan, Jendela yang besar dan bangunan yang tinggi.   Saat menyusuri jalanana ini di ujung jalan tersapat sebuah bangunan besar. Inilah pabrik karung Goni Delanggu Yang terkenal itu. 
Namun kondisi pabrik ini sudah sangat menghawatirkan. Walaupun bangunanya masih megah berdiri namun tidak ada upaya untuk merawat. “Dulu saya ditugaskan untuk menggempur dua cerobong asap di pabrik ini. Sangat sulit untuk menggempurnya. Cerobongnya tinggi dan batu batanya besar-besar. berbeda dengan batu bata saat ini.” Kata Pak Naryo. menelisik kebelakang banyak. Bangunan Pabrik ini merupakanbangunan yang sangat penting. Banyak peristiwa sejarah yang terjadi di lingkungan pabrik.
Pada awalnya pabrik karung goni adalah sebuah pabrik gula yang didirikan pada tahun 191. Bangunan pabrik ini cukup luas dengan dua cerobong besar yang menjulang kelangit. Selain bangunan pabrik yang besar terdapat banyak bangunan rumah yang diperuntukan untuk pegawai-pegawai pabrik.  Pendirian pabrik karung ini bertujuan untuk mempermudah produksi gula, dikarenakan didaerah Delanggu dan sekitarnya memiliki perkebunan tebu yang cukup luas. Pada tahun 1871 luas perkebunan ditaksir sekitar 404 bau yang menghasilkan tebu sekitar 16. 183 pikul Dengan luas dan melimpahnya hasil tebu maka diperlukan sebuah pabrik yang mampu menampung dan mengolah hasil perkebunan ini.
Pada tahun 1930-an terjadi penurunan pasaran gula di Eropa. Hal ni berimbas pula terhadap produksi gula di Indonesia. Hasil produksi gula yang melimpah namun tidak terdapat pasar untuk memasarkanya menyebabkan kebangkrutan pabrik gula belanda ini. Sehingga pada tahun 1933 pabrik ini ditutup. Pemerintahan colonial mengalih fungsikan bangunan pabrik ini menjadi pabrik Karung goni Perubahan fungsi ini juga mengakibatkan perubahan pola tanaman. Perkebunan yang dulunya ditanami tebu digantikan dengan tanaman Rossela atau rami yang merupakan bahan baku pembuatan goni.
Seiring dengan pergantian penguasa di Indonesia yang semula dikuasai Belanda menjadi dikuasai oleh jepang. Pabrik karung goni ini masih tetap beroperasi bahkan tambah besar. Kemajuan pabrik karung goni ini diakibatkan kebijakan pemerintahan Militer jepang yang mengurangi penanaman tanaman-tanaman perdagangan dan menggantikanya dengan pertanian padi untuk mencukupi kebutuhan pangan tentara yang sedang berperang. Karung goni difungsikan sebagai wadah beras yang dikirimkan kebarak-barak tentara.
Bahkan setelah kemerdekaan Idonesia pabrik karung goni ini mengalami nasionalisasi menjadi milik pemerintahan dan pernah menjadi pabrik karung goni terbesar di Asia Tenggara. Banyak pula peristiwa setelah kemerdekaan yang terjadi  di Pabrik karung goni ini. Salah satunya adalah sebuah gerakan bersar yang bisa dikatakan sebuah gerakan demonstrasi dan pemogokan besar-besaran para pekerja pabrik yang bergabung dalam Sarbupri. Pemogokan pegawai pabrik karung delanggu ini merupakan perwujudan pergolakan dan pertentangan antara partai politik yang berkembang pada awal kemerdekaan yang menggunakan organisasi-organisasi pekerja sebagai saranan untuk mengumpulkan masa dan mendesak pemerintahan.
 Pemogokan pekerja pabrik karung ini merupakan contoh pergolakan dan proses terjadinya aliran-aliran dalam masyarakat local selama revolusi nasional. Peristiwa ini juga menjadikan proses kristalisasi aliran di daerah Delanggu menjadi dua aliran yaitu aliran islam dan golongan kiri. Golongan kiri ini yang kemudian berkembang menjadi golongan yang dianggap sebagai orang-orang PKI dan Organisasi-organisasi Underbownya.
Pada saat kondisi politk Indonesia memanas akibat Percobaan Kudeta Septembr 65 yang dianggap dilakukan oleh PKI. Di sekitar pabrik ini terjadi peristiwa yang luar biasa. Pekerja pabrik yang dianggap sebagai anggota PKI ditangkat, diasingkan bahkan dibunuh. Pabrik dianggap sebagai sarang PKI. Oleh karena peristiwa ini perlahan pabrik tutup karena banyak pegawainya yang ditangkap. Selain itu kemunduran pabrik juga diakibatkan majunya teknologi yang dapat menghasilkan karung plastic pengganti karung goni.
Setelah tidak beroperasi lagi. Pabrik ini dibiarkan terbengkalai. Banyak faktor yang menyebabkan pemerintah tidak memperhatikan pabrik ini. Pertama faktor ketidak jelasan pemilikan lahan.  Yang kedua belum adanya penelitian tentang pabrik ini. Yang ketiga tidak adanya tim yang mumpuni untuk merawat bangunan ini. Yang keempat yang paling kuat adalh faktor cerita-cerita mistik yang berkembang di kalangan masyarakat tentang pabrik ini.
Miris memang. Bangunan kuno peninggalan Belanda yang banyak menyimpan kenangan dan cerita malah terbengkalai tak terurus. Padahal Jika dilihat dari usia bangunan yang sudah mencapai 98 tahun, menurut undang-undang no 11 tentang benda cagar budaya bangunan ini sudah bisa dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya karena syarat bangunan cagar budaya adalah berusia lima puluh tahun atau lebih dan memiliki masa gaya paling singkat berusia lima puluh tahun.  Selain itu bangunan pabrik karung Delanggu ini juga  memiliki arti khusus bagi sejarah, kebudayaan, dan memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.
 atan

Minggu, 12 April 2015

Makalah perkembangan Genetika


BAB I
PENDAHULUAN
1.    LATAR BELAKANG
“Buah tidak jatuh dari pohonya” pepatah ini menunjukan jika ilmu genetika secara tidak langsung telah dikenal luas dikalangan masyarakat. Namuan ilmu genetika ini tidak sepopuler ilmu-ilmu lain seperti ekonomi, geografi, biologi ataupun fisika. Secara sederhana ilmu genetika dapat diartikan sebagai sebuah ilmu yang mempelajari tentang keturunan mahluk hidup.
Salah satu cirri mahluk hidup adalah kemampuan utnuk dapat memproduksi sejenisnya. Setiap organism atau mahluk hidup selalu menurunkan sejenisnya yang sama atau paling tidak mendekati sama. Oleh karena itu organism akan lebih menyerupai organism yang menrunkanya dari pada dengan organism lain.
Ilmu genetika lahir jauh setelah manusia ada. Namun sebenarnya secara tidak sadar manusia telah menerapkan prinsip-prinsip genetika dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya.  Sebagai contoh bangsa Mesir dan Sumeria kuno telah berusaha memperbaiki kualitas tanaman gandum mereka dengan menyilangkan sifat-sifat unggul pada masing-masing jenis gandum untuk mendapatkan gandum dengan kualitas yang baik. Ilmu semacam ini masih terus dipakai hingga saat ini.
Namun secara resmi genetika dikenal sebagai sebuah ilmu saat Gregor Johann Mendel yang melakukan percobaan secara cermat terhadap kacang ercis hingga menghasilkan sebuah buku Proceedings of the Brunn Society for Natural History yang diterbitkan pada tahun1866. Buku ini telah banyak menginspirasi para ilmuan-ilmuan lain untuk melakukan percobaan serupa dan mengembangkan ilmu genetika sendiri.
Dalam perkembangan selanjutnya Ilmu genetika ini sangat berperan dan memberikan sumbangan yang sangat besar baik untuk bidang kedokteran atau argoteknologi.

2.      Rumusan Masalah  
2.1. Apakah hakekat Genetika?
2.2.Bagaimanakan Perkembangan Ilmu genetika Sebelum Mendel?
2.3.Bagaimanakah Perkembangan Genetika Pasca Mendel?
2.4.Bagaiman perkembangan genetika pada masa modern?
3.      Tujuan
31. Menjelaskan Hakekal Genetika
3.2. Menjelaskan Perkemangan ilmu genetika Seeblum Mendel
3.3. Menjelaskan perkembangan ilmu genetika sesudah Mendel
3.4. Menjelaskan perkembangan genetika pada masa modern


BAB II
ISI
1.    Hakekat Genetika
Genetika berasal dari bahasa latin Genos yang berarti suku bangsa atau asal usul. (Azmi Elfita, 2008: 1). Namun walaupun berarti asal usul ilmu ini tidak dapat diartikan sebagai ilmu tentang asal mula mahluk hidup, ilmu ini mengambil sebagian kecil dari kejadian sal muasal mahluk hidup. Genetika juga dianggap berasal dari nahasa Yunani Genno yang berarti melahirkan. (Azmi Elfita, 2008: 1).
Menurut  Saefudin (2007:1) Genetika adalah ilmu tentang hereditas atau variasi yang terkait denganya. Sedangkan hereditas sendiri adalah perpindahan sifat dari satu generasi ke generasi selajutnya
Jadi dapat disimpulkan jika genetika adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk alih informasi hayati dari generasi kegenerasi. Oleh karena cara berlangsungnya alih informasi hayati tersebut mendasari adanya perbedaan dan persamaan sifat diantara individu organisme, maka dengan singkat dapat pula dikatakan bahwa genetika adalah ilmu tentang pewarisan sifat.
Dalam ilmu ini dipelajari bagaimana sifat keturunan (hereditas) itu diwariskan kepada anak cucu, serta variasi yang mungkin timbul didalamnya. Namun, bahan sifat keturunan itu tidaklah bersifat baka. Selalu mengalami perubahan, berangsur atau mendadak. Seluruh makluk bumi mengalami evolusi termasuk manusia. Evolusi itu terjadi karena perubahan bahan sifat keturunan, dan dilaksanakan oleh seleksi alam.
Secara lebih rinci, genetika berusaha menjelaskan :
·        Material pembawa informasi untuk diwariskan (bahan genetik),
·        Bagaimana informasi itu diekspresikan (ekspresi genetik), dan
·        Bagaimana informasi itu dipindahkan dari satu individu ke individu yang lain (pewarisan genetik).
Kata genetika sendiri dipopulerkan oleh Bateson untuk menggambarkan studi warisan dalam pidato pelantikannya pada Konferensi Internasional Ketiga tentang Tanaman Hibridisasi di London, Inggris, pada tahun 1906.

1.    Perkembangan Genetika Pra Mendel (Sebelum abad 19)
Walaupun teory genetika secara resmi baru dikenal sesaat setelh George Mandel melakukan percobaan dan pengamatan terhadap kacang ercis. Jauh sebelumnya sudah ada penerapan prinsip-prinsip dasar Genetika untuk memenuhi kebutuhan hidup mahluk hidup berabat-abad sebelum masehi.
Sebagai contoh, bangsa Sumeria dan Mesir kuno telah berusaha untuk memperbaiki tanaman gandum, bangsa Cina mengupayakan sifat-sifat unggul pada tanaman padi, bangsa Siria menyeleksi tanaman kurma.Demikian pula, di benua Amerika dilakukan persilangan-persilangan pada gandum dan jagung yang berasal dari rerumputan liar.Bangsa Babylonia (6000 Tahun lalu ), telah menyusun silsilah kuda untuk memperbaikiketurunannya. (Azmi Elfita, 2008: 1).
Sebelum Genetika menjadi sebuah ilmu yang tertulis secara teoritis, ilmuan-ilmuan kuno pada masa Yunani sebenarnya sudah memiliki pemikiran tentang konsep-konsep dasar pewarisan sifat, Ilmuan tersebebut seperti :
1.1.Theophrastus (lahir 370 SM — wafat 285 SM)
Ia merupakan penerus Aristoteles di sekolah Peripatetik yang berasal dari Eressos di Pulau Lesbos. (http://id.wikipedia.org ) Pemikiranya mengenai  bunga jantan membuat bunga betina menjadi matang.  Ia memandang tumbuhan secara murni dari sis tumbuhan itu sendiri, dari pewarisan sifatnya ke keturunan berikutnya ataupun dari variasi sifatnya. Ia tidak memandang tumbuhan dari segi pemanfaatanya.  Karena itu ia disebut bapak botani di dunia
1.2. Hippokrates (460 SM - 370 SM)
Ia adalah seorang ahli fisika dari Yunani kuno, yang kini dikenal sebagai figur medis yang paling terkemuka sepanjang masa, maka dari itu ia disebut "Bapak Kedokteran" (http://id.wikipedia.org) . Ia mengemukakan juga pernah mengemukanakn pemikiran yang didalamnya mengandung prinsip dasar genetika pemikiran tersebut adalah benih" diproduksi oleh berbagai anggota tubuh dan di wariskan pada saat pembuahan.
1.3.Aristoteles  (384 SM – 322 SM)
Ia  adalah seorang filsuf Yunani, murid dari Plato dan guru dari Alexander yang Agung. (http://id.wikipedia.org)  Ia mengajukan pemikiran tentang semen pejantan dan betina becampur pada saat pembuahan. Ia juga mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis
1.4. Aeskhylus, pada tahun 458 SM
Ia mengajukan ide bahwa sang pejantan adalah orang tua yang sebenarnya dan betina adalah "perawat dari bayi yang disemai di dalamnya". Bermacam-macam mekanisme hereditas diajukan tanpa diuji atau dikuantifikasi dengan layak. Mekanisme ini diantaranya pewarisan campuran, dan pewarisan sifat dapatan.

2.    Perkembangan Genetika pada masa Mendel (1822-1884)
Gregor Johann Mendel adalah seorang biarawan Austria. Ia melakukan percobaan persilangan pada tanaman ercis ( Pisum Sativum ) dan berhasil melakukan analisis yang cermat dengan interpretasi yang tepat atas hasil-hasil percobaan persilangannya pada tanaman tersebut. Ia jugaberhasil mengamati sesuatu ,macam sifat keturunan ( karakter ) yang di turunkan dari generasi ke generasi. Mendel juga berhasil membuat perhitungan matematika tentang sifat genetis karakter yang di tampilkan. Factor genetis ini kemudian disebut determinant / factor. Dengan keberhasilannya tersebut, maka Mendel dinamakan BAPA GENETIKA.dan sekaligus memberi dasar pengetahuan bagi genetika maddel (Azmi Elfita, 2008: 8-9).
3.    Perkembangan Genetika Setelah Mendel
Zaman ini di tandai dengan adanya ditemukannya karya Mendel oleh :
1. Hugo de vries ( Belanda )
2. Carts Correns ( Jerman )
3. Erich Von Tshcemak ( Austria )
Setelah itu banyak ahli yang melakukan penelitian, diantaranya :
a.      . Bateson & Punnet ( 1861-1926 ) (Bisa dilengkapi profilnya cari di google)
Pada tahun 1907 melakukan percobaan pada ayam untuk membuktikan apakah percobaan Mendel berlaku pada hewan. Mereka menemukan adanya sifat-sifat yang menyimpang dari matematika Mendel.Selain itu juga menemukan juga adanya interaksi antara gen dalam menumbuhkan suatu variasi.
b.       Van Beneden & Boveri
Mengatakan bahwa kromosom dalam nucleus merupakan pembawa bahan genetis.
c.        Flemming & Roux
Mengamati proses pembelahan sel somatic yang kemudian diberi nama MITOSIS dan MIOSIS.
d.       Weissmann
Mengatakan bahwa kromosom membagi dua pada waktu pembelahan sel yakni dalam pembentukan gamet/meiosis.
e.       Sutton
Mengumumkan adanya kesejajaran antara tingkah laku kromosom ketika sel sedang membelah dengan segregasi bahan genetis penemuan Mendel.
f.       Morgan
Mengatakan gen merupakan unit terkecil bahan genetis,(istilah gen diperkenalkan oleh Johansen)dan gen terdapat banyak dalam satu kromosom,dengan kata lain gen-gen berangkai.Bahan genetis tidak baka,dapat mengalami perubahan.Perubahan genetis yang bukan karena pengaruh hybrid ini disebut mutasi.
g.      Garrod (1909)
Menemukan banyak penyakit bawaan disebabkan keabnormalan kegiatan enzim,sedangkan enzim itu diproduksi oleh gen.
h.      Ingram (1956)
Mengatakan terdapat perbedaan hemoglobin normal dengan abnormal yang penyebabnya adalah karena terdapat perbedaan pada urut-urutan asam-asam amino dalam molekul globinnya .Perbedaan itu terjadi karena adanya mutasi.
i.        Muller (1927) & Auerbach (1962)
Dalam penelitiannya melihat bahwa mutasi dapat terjadi dengan cara buatan (induksi).
j.         Watson & Crick (1953)-Wilkins (1961)
Mengatakan susunan molekul gen adalah ADN.
k.       Nirenberg (1961)
Menyusun kode genetis yang menentukan urutan-urutan asam amino dalam sintesa protein,dan mengetahui gen bekerja menumbuhkan suatu karakter lewat sintesa protein dalam tubuh. ((Azmi Elfita, 2008: 10-15)
Pada masa percobaan-percobaan ilmuan ini disebut dengan era genetika Klasik.
Selanjutnya, pada awal abad ke-20 ketika biokimia mulai berkembang sebagaicabang ilmu pengetahuan baru, para ahli genetika tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang hakekat materi genetik, khususnya mengenai sifat biokimianya. Pada tahun 1920-an, dan kemudian tahun 1940-an, terungkap bahwa senyawa kimia materi genetic adalah asam deoksiribonukleat (DNA). Dengan ditemukannya model struktur molekul DNA pada tahun 1953 oleh J.D. Watson dan F.H.C. Crick dimulailah era genetika yang baru, yaitu genetika molekuler.
Perkembangan penelitian genetika molekuler terjadi demikian pesatnya. Jika ilmu pengetahuan pada umumnya mengalami perkembangan dua kali lipat (doubling time) dalam satu dasawarsa, maka hal itu pada genetika molekuler hanyalah dua tahun! Bahkan, perkembangan yang lebih revolusioner dapat disaksikan semenjak tahun 1970- an, yaitu pada saat dikenalnya teknologi manipulasi molekul DNA atau teknologi DNA rekombinan atau dengan istilah yang lebih populer disebut sebagai rekayasa genetika. (nn, 2007:7)
4. Perkembangan Genetik pada masa Modern
Pada masa modern seperti sekarang ini Genetik tumbuh menjadi ilmu murni dan ilmu terapan. Genetika juga memiliki cabang-cabang  ilmu sebagai akibat pendalaman terhadap suatu aspek tertentu dari objek kajiannya.
Cabang-cabang murni genetika :
  1. Genetika molekular
  2. Genetika Sel (sitogenetika)
  3. Genetika Populasi
  4. Genetika Kuantitatif
  5. Genetika Perkembangan
Cabang-cabang terapan genetika :
  1. Genetika Kedokteran
  2. Ilmu Pemuliaan
  3. Rekayasa Genetika atau rekayasa gen
Sebagai ilmu pengetahuan dasar genetika dengan konsep-konsep di dalamnya dapat berinteraksi dengan berbagai bidang lain untuk memberikan kontribusi terapannya. Diantaranya dalam bidang :
1. Pertanian
Dalam Bidang kontribusinya adalah pada ilmu pemuliaan tanaman dan ternak,Penerapan ilmu genetika dalam bidang ini bisa jadi merupakan penerpan yang paling tua . Persilangan persilangan konvensional yang dilanjutkan dengan seleksi untuk merakit bibit unggul, baik tanaman maupun ternak, menjadi jauh lebih efisien berkat bantuan pengetahuan genetika. Demikian pula, teknik-teknik khusus pemuliaan seperti mutasi, kultur jaringan, dan fusi protoplasma kemajuannya banyak dicapai dengan pengetahuan genetika. Dewasa ini beberapa produk pertanian, terutama pangan, yang berasal dari organisme hasil rekayasa genetika atau genetically modified organism (GMO) telah dipasarkan cukup luas meskipun masih sering kali mengundang kontroversi tentang keamanannya. (nn, 2007:7)

2.         Dalam bidang Kedokteran
Dalam bidng kedokteran Genetika berfungsin untuk :
1. mengetahui sifat – sifat keturunan kita sendiri, serta setiap mahkluk yang hidup
2. Mengetahui kelainan atau penyakit keturunan serta usaha untuk menanggulanginya
3. Menjajagi sifat keturunan seseorang, misalnya golongan darah, yang kemungkinan diperlukan dalam penelitian warisan harta dan kriminalitas

3.         Dalam bidang Farmasi
Teknik rekayasa genetika memungkinkan dilakukannya pemotongan molekul DNAtertentu. Selanjutnya, fragmen-fragmen DNA hasil pemotongan ini disambungkan dengan molekul DNA lain sehingga terbentuk molekul DNA rekombinan. Apabilamolekul DNA rekombinan dimasukkan ke dalam suatu sel bakteri yang sangat cepat pertumbuhannya, misalnya Escherichia coli, maka dengan mudah akan diperoleh salinan molekul DNA rekombinan dalam jumlah besar dan waktu yang singkat. Jika molekul DNA rekombinan tersebut membawa gen yang bermanfaat bagi kepentingan manusia, maka berarti gen ini telah diperbanyak dengan cara yang mudah dan cepat. Prinsip kerja semacam ini telah banyak diterapkan di dalam berbagai industri yang memproduksi biomolekul penting seperti insulin, interferon, dan beberapa hormon pertumbuhan.

4.         Hukum
Sengketa di pengadilan untuk menentukan ayah kandung bagi seorang anak secara klasik sering diatasi melalui pengujian golonan darah. Pada kasus-kasus tertentu cara ini dapat menyelesaikan masalah dengan cukup memuaskan, tetapi tidak jarang hasil yang diperoleh kurang meyakinkan. Belakangan ini dikenal cara yang jauh lebih canggih, yaitu uji DNA. Dengan membandingkan pola restriksi pada molekul DNA anak, ibu, dan orang yang dicurigai sebagai ayah kandung si anak, maka dapat diketahui benar tidaknya kecurigaan tersebut. Dalam kasus-kasus kejahatan seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan bahkan terror pengeboman, teknik rekayasa genetika dapat diterapkan untuk memastikan benar tidaknya tersangka sebagai pelaku. Jika tersangka masih hidup pengujian dilakukan dengan membandingkan DNA tersangka dengan DNA objek yang tertinggal di tempat kejadian, misalnya rambut atau sperma. Cara ini dikenal sebagai sidik jari DNA (DNA finger printing). Akan tetapi, jika tersangka mati dan tubuhnya hancur, maka DNA dari bagian-bagian tubuh tersangka dicocokkan pola restriksinya dengan DNA kedua orang tuanya atau saudara-saudaranya yang masih hidup.





Senin, 19 Januari 2015

Pemberontakan di Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer




PEMBERONTAKAN-PEMBERONTAKAN DI INDONESIA 

PADA MASA DEMOKRASI PARLEMENTER


DISUSUN OLEH :
1.      GINANJAR                           (3101412002)
2.      LILIANY RATNA P             (3101412022)
3.      ANITA WIDIA N                  (3101412032)
4.      SEPTI RAHMAWATI           (3101412042)



ROMBEL 5A
PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.      LATAR BELAKANG
Paska diproklamasikan kemerdekaanya tangga 17 Agustus 1945 Indonesia mengalami banyak permasalahan. Sebagai Negara yang baru kelengkapan Negara yang dibentuk melalui sidang-sidang belum dapat berjalan maksimal. Disisi lain pemerintahan jajahan dalam hal ini adalah Belanda belum mau melepaskan Indonesia secara penuh. Setelah jepang kalah dalam perang melawan Sekutu. Sekutu melalui NICA datang ke Indonesia namun Belanda ikut bersamanya. Belanda kemudian melakukan agresi-agresi militer.
Untuk menyelesaikan perseturuan dengan Belanda dibuatlah beberapa perjanjian-perjanian yang sebenarnya tidak menguntungkan Indonesia. Dalam perjanjian-perjanjian ini Belanda mencoba memecah belah kembali Indonseia. Salah satu isinya adalah memberntuk Uni-Indonesia beladan dan egara Indonesia diubah menjadi negera serikat dimana terdapat Negara-negara bagian didalam Indonesia.
Karena merupakan Negara baru pembangunan dan perekonomian belum dalap berjalan merata hal ini lah yang memicu ketidak puasan negera-negara serikat karena pembangunan ekonomi hanya terpusat di Jawa. Oleh karena itu banyak Negara bagian yang ingin melepaskan diri dan berdiri sendiri.

2.      RUMUSAN MASALAH
2.1.Apa saja Pemberontakan yang terjadi Di Indonesia ?
2.2.Apa latar belakang pemberontakan tersebut ?
2.3.Bagaimana jalanya pemberintakan tersebut?
2.4.Bagaimana akir dari pemberontakan tersebut?
2.5.Apa dampak pemberontakan-pemberonakan tersebut?





3.      TUJUAN
3.1.Menyebutkan Pemberontakan yang terjadi Di Indonesia
3.2.Menjelaskan latar belakang pemberontakan tersebut
3.3.Menjelaskan jalanya pemberintakan tersebut
3.4.Menjelaskan akir pemberontakan
3.5.Menjelaskan dampak pemberontakan.
BAB II
ISI
1.    Pemberontakan APRA ( Angkatan Perang Ratu Adil)
Pada pertengahan Bulan Npvember 1949 Kapten Paul  “Truk” Westerling yang baru saja didemobilisasi dari KNIL (Knonklijke Lager Nerderlandsch-Indiche Leger) mulai mengorganisir sebuah kekuatan  terutama dari serdadu KNIL yang sudah didemobilisasi. Termasuk didalamnya sejumlah orang Belanda dan dua bekas Inspektur Polisi mauk kedalam kelompoknya. Westerling dan para perwiranya mulai mengadakan hubungan dengan beberapa pasukan KNIL dan KL (Koninklijke Leger) yang masih bertugas di Bandung dan menjadikan Bandung sebagai Pusat Kegiatanya. [1] Gerakan ini menggunakan nama Ratu Adil karena ingin merebut simpati rakyat yang sebagian besar telah mendengar ramalan Jaya Baya. Dimana dalam ramalan tersebut disebutkan akan ada seorang Ratu Adil yang akan membawa masyarakat Indonesia kedalam kehidupan yang sejahtera. Angkatan Perang ini dapat dikatakan sebagai kekuatan bersenjata pemecah belah yang di dalangi oleh pihak Belanda. [2]
1.1.Latar Belakang Pemberontakan
1.1.1. Kekhawatiran Belanda terhadap Persatuan Indonesia.
Dengan disetujuinya Konferensi Meja Bundar antara Inodesia dan Belanda maka terbentukalah Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan 17 negara bagian didalamnya. Walaupun terdiri dari banyak Negara Bagian mereka masih berhubungan dengan pemerintahan Pusat RIS di Jogjakarta.
Dengan sistem seperti ini timbulah kekawatiran dalam kubu Belanda. Belanda tidak ingin melihat Indonesia sebagai Negara yang bersatu dan Belanda mulai berusaha mempengaruhi beberapa Pemuka masyarakat agar disetiap Negara Bagian membentuk Angkatan Perangnya Sendiri. [3]
1.1.2.  Tidak Disetujuinya APRA sebagai ankatan Perang Negara Bagian Pasundan.
Berdasarkan Hasil keputusan Konferensi Antar Indonesia di Yogyakarta yang mengakui Angkatan Perang Republik Insonesia Serikat ( APRIS) sebagai satu-satunya angkaytan Bersenjata di RIS rakyat semakin gelisah . Sedangkan APRA yang berpusat di Bandung yang saat itu merupakan Bagian dari Negara Pasundan menyatakan dirinya sebgai Tentara Federal Pasundan tidak diterima oleh Pemerintahan RIS.[4]
1.2.Jalanya Pemberontakan
Pasukan Westerling mendekati Bandung pada tangggal 22 Januari 1950 petang, dan diperkuat oleh Resimen pasukan gerak cepat KL yang berpangkalan di Bandung. Pasukan yang seluruhnya berjumlah 800 Orang bersenjata berat. Ditaksir 300 diantaranya adalah serdadu KL. Pasukan pimpinan Westerling ini memasuki Bandung pada Pagi hari tanggal 23. Terjadilah pertempuran sengit dimana 60 tentara dari kesatuan RIS yang bertugas disana terbunuh.[5]
Setelah menduduki hampir semua tempat penting di kota dan Sebelum melakukan tindakan yang lebih jauh Komisaris Tinggi Belanda dan komandan Garnisun Belanda Major Jendral Engels yang masih Berada di Bandung mendesaknya Supaya Mundur pada hari itu juga.[6]
Pada 26 Januari pasukan Westerling mulai merembes masuk ke Jakarta dengan tujuan ingin memulai suatu Kudeta besar-besaran. Namun sebelum mereka dapat diorganisir kembali mereka sudah ketahuan dan setelah beberapa pertempuran singkat pemberontakan tersebut berhasil di padamkan. [7]
1.3.Akir Pemberontakan
Setelah Pemberontakan berhasil dipadamkan munculah sosok baru yang menurut kesaksian beberapa sumber merupakan dalang Peristiwa tersebut. Orang itu adalah Sultan Hamid II dari Kalimantan Barat yang merupakan seorang Federalis terkemuka dan anggota Kabinet. Westeling dianggap sebagai senjata Militer saja.
Menurut Sumber-sumber pemerintah Sultan Hamid di tangkap pada 5 april dan dipenjarakan. Dan pada 19 April ia mengakui telah mengadakan usaha menggulingkan pemerintakan RIS dengan mengadakan rencana serangan terhadap Parlemen. [8] Westeling melarikan diri dengan jalan menyamar dan terbang ke Singapore dengan menggunakan Pesawat terbang militer Belanda namun pada 26 Februari ia bisa ditangkap di Singapore.
1.4. Dampak Pemberontakan
1.4.1.      Hubungan Indonesia Belanda Terganggu
Hubungan Indonesia dan Belanda yang sempat membaik seusai Konferensi Meja Bundar dan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, Kembali memburuk Setelah peristiwa Pemberontakan APRA. Bangsa Indonesia menjadi marah karena terlibatnya beberapa perwira angkata bersenjata dalam pemberontakan tersebut. Bsangsa Indonesia merasa bahwa Komandan Tertinggi Angkatan Bersenjata Belanda begitu bodoh dalam mempertahankan pengawasan atas pasukan-pasukanya sendiri.
1.4.2.      Negara Pasundan Dibubarkan
Beberapa pimpinana Negara Bagian Pasundan yang dicurigai terlibat dalam pemberontakan ini di Tangkap[9]. Hal ini menimbulkan suatu tuntutan yang didorong oleh pemerintahan RIS untuk mengganti Pimpinan Negara Bagian Pasundan. Pada tanggal 8 Februari cabinet RIS membuat konsep undang-undang darurat mengenai penyerahan kekuasaan pemerintahan Pasundan kepada suatu Komisi Negara yang ditunjuk oleh pemerintah pusat. Keesokan harinya Wiranata Koesuma, Wali Negara Pasundan menyerahkan kekuasaanya kepada Sewaka, Komisaris yang baru ditunjuk oleh Pemerintahan RIS.


2.      Pemberontakan PRRI/PERMESTA
PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) adalah suatu pemerintahan pemberontak yang berdiri pada 15 Februari 1958 di Sumatra dengan markas Besarnya berada di Bukit tinggi. Tokoh Penggerak PRRI adalah para tokoh dewan, Seperti Dewan Banteng, Dewan Gajah, Garuda, Manguni[10]. Gerakan Mereka lebih bersiwat Sparatis dan membentuk suatu cabinet dimana duduk beberapa orang tokoh politik dan militer[11]. Dua hari setelah pembentukan PRRI  kaum PERMESTA bergabung dengan PRRI. Gerakan ini mendapat dukungan dari Amerika Serikat.
2.1.   Latar Belakang Pemberontakan.
2.1.1. Ketidak Puasan terhadap Pemerintahan Pusat.
Menurut Bruce Grant dalam Lapian tindakan-tindakan pimpinan pemberontak lahir dari perasaan frustasi bukan berdasarkan perencanaan politik yang praktis, mungkin ada yang didorong ambisi pribadi, namun mempuanyai sikap idealis. Hal ini sesuai dengan tindakan pemberontakan PRRI. Pemberontakan ini diakibatkan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintahan Pusat yang lebih mengutamakan pembangunan di Jawa Khususnya di Jakarta. Kebijakan pemerintah ini menimbulkan kekecewaan terhadap beberpa Dewan militer yang ada didaerah daerah.  Oleh karena itu Para dewan ini mencoba mencari saluran baru untuk menyampaikan tuntutan kepentingangan daerah.

2.1.2.      Permaslahan di Tubuh Angkatan Darat
Akibat permainan politik di tunuh TNI terjadi pergolakan-pergolakan, khususnya di tubuh TNI AD. Beberapa orang perwira TNI AD yang tidak sependapat dengan Kebijakan Kepala Staf Angkatan Darat telah meminta Presiden Soekarno mengganti KSAD Kolonel A.H. Nasution[12]. Kolonel Bambang Supeno mendatangi Panglima-panglima daerah untuk mengajak mereka menandatangani pernyataan agar presiden mengganti Kolonel A.H. Nasution sebagai KSAD. Tetapi cara yang ditempuh itu tidak mendapat persetujuan oleh perwira Angkatan Darat yang berada di pusat maupun daerah karena dapat merusak solidaritas intern TNI.
2.1.3.      Kecemasan Amerika terhadap Soekarno dan PKI
Pemberontakan ini mendapat dukungan rahasia dari Amerika Serikat karena Amerika merasa cemas terhadap Soekarno dan PKI[13]. Karena Soekarno adalah seorang Nasionalis dan anti Liberalisme Barat. Soekarno tidak mau bekerja sama dengan bangsa barat termasuk Amerika.
2.1.4.      Keterlibatan Australian
Keterlibatan Australia terhadap pemberontakan PRRI/PERMESTA nampaknya bukan hanya seerdar memberikan simpati tetapi jua memberikan bantuan berupa perangkat luank serta bantuan berupa peralatan perang dan fasilitas-fasilitas lainya hal ini dikarenakan kecurugaan Amerika serikat terhadap Indonesia yang diikuti sekutunya Australia . Hal ini menjadi faktor dominan  Yang ikut menentukan mengapa Australia mendukung dan membantu pemberontakan PRRI.[14]
2.2.Jalanya Pemberontakan
Setelah diumumkan pembentukanya tanggal 15 Februari PRRI segera melakukan konsolidasi dengan PERMESTA .Selain itu pembentukan ini mendapatkan sambutan dari Negara Indonesia Timur. Dalam rapat raksasa yang digelar di beberapa tempat didaerah-daerah Komando Daerah Militer Sulawesi Utara dan Tengah ( KDSMUT) Kolonel Sumba mengeluarkan pernyataan nahwa tanggal 17 Februari 1958, daerah Sulawesi Utara dan Tengah memutuskan hubungan dengan Pemerintahan Pusat dan mendukung Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Pernyataan ini merupakan pernyataan Piagam Perjuangan Rakyat Semesta (PERMESTA).
2.3. Akir Pemberontakan
Walaupun sudah berhasil menyatukan banyak masa dari berbagai daerah PRRI belum melakukan aksi yang nyata dan besar.  Pada awal pemberontakan pihak PRRI telah mengalami banyak kekurangan-kekurangan. Yang pertama karena Panglima Sumatera Selatan yang tidak ikut bergabung dengan PRRI karena mereka merasa gelisah sebab letaknya dekat dengan Jawa dan kawatir akan banyaknya orang Jawa yang menjadi buruh diladang-ladang minyak merupakan anggota PKI. Yang kedua karena PRRI tidak mendapat dukungan yang berari di Sumatra Utara atau Kalimantan. Para Pemberontak Darul Islam di Aceh, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan menempuh cara mereka sendiri
Untuk menghadapi pemberontakan PRRI dan PERMESTA pemerintahan melalui Angkatan Udara Mengebom Instalasi-instalasi PRRI di Padang, Bukit Tinggi, dan Menado pada akir Februari. Pada awal Maret pihak tentara mulai mendaratkan kesatuan-kesatuan dari divisi Siliwangi dan Divisi Diponegoro di Sumatra dibawah pimpinan Ahmad Yani. Pemberontak dapat dipukul Mundur pada 17 maret dan pada 5 Mei Bukit Tinggi berhasil direbut oleh Pemerintahan Pusat Jakarta.
Setelah penguasaan Bukit Tinggi Gerakan PRRI di Sumatra berubah menjadi gerakan Gerilya Hingga ke Pedalaman. Pada pertengahan tahun 1958 pemberontakan PRRI boleh dikatakan sudah gagal walaupun kehancuranya yang terakir masih terjadi tiga tahun kemudian. [15]
2.4.Dampak Pemberontakan
2.4.1.      Perbedaan Pendapat dikalangan Pemimpin Negara.
Perbedaan pendapat tentang penyelesaian dan sangksi untuk para pemberontak Terjadi diantara Soekarno dan Hatta. Soekarno mendesak diberlakukannya sanksi yang tegas untuk para pemberontak. Djuanda dan Nasution dan anggota PNI dan PKI juga mneghendaki pemberontak harus ditumpas. Tetapi Hatta bersama-sama dengan para pemimpin Masyumi dan PSI mendesak penyelesaian dengan perundingan[16], sehingga menempatkan diri mereka pada posisi kompromis.
2.4.2.      Hubungan Luar Negeri Indonesia tergoncang
Simpati dan dukungan Amerika Serikat terhadap para pemberontak PRRI terlihat jelas oleh pemerintahan pusat RIS di Jakarta, hal ini merusak hubungan Indonesia dan Amerika. Walaupun Amerika sempat melakukan upaya untuk memperbaiki bubungan dengan Indoesia melaluinMentri Luar Negeri Amerika J.F Dulles yang mengecam keikutcampuran Amerika terhadap PRRI namun upaya itu gagal memperbaiki hubungan[17]. Soekarno dan banyak pimpinan lainya cenderung memandang Amerika Serikat dengan kecurigaan yang lebih besar daripada seperti yang biasanya terjadi diantara Negara besar dan Negara berkembang.
2.4.3.      Penyederhanaan Politik Militer Indonesia
Banyak Perwira Militer yang membangkang dikeluarkan dari urusan-urusan Militer. nKebanyakan Perwira yang diberhentikan terebut berasal dari daerah-daerah luar Jwa sehinggan korps perwira semakin banyak ditempati oleh orang jawa. Pada tahun 1960-an diperkirakan 60 samapi 80 persen perwira militer adalah orang Jawa, padahal kelompok suku ini berjumlah 45 persen dari total seluruh jumlah penduduk Indonesia.
2.4.4.      A.H. Nasution menjadi pimpinan Militer yang tak tertandingi
Setelah banyak dilakukan pemecatan terhadap banyak perwira TNI yang membangkang A.H. Nasution dianaikan pangkatnya menjadi Letnan Jendral pada Juli 1958. Ia menjadi orang pertama yang mendapatkan pangkat itu semenjak Soedirman. Hal ini dikarenakan upaya keras yang dilakukan A.H Nasution untk menumpas para Pemberontak. Selain itu ia juga memiliki kesamaan prinsip dengan Soekarno.
3.      Pemberontakan Andi Azis
Pada tanggal 5 April 1950 di Makasar terjadi pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh kesatuan bekas KNIL dibawah pimpinan kapten Andi Azis.
Andi Azis yang sebelumnya menjadi Letnan Ajudan Wali Negara “Negara Indonesia Timur” beserta satu komisi anak buahnya bekas KNIL pada tanggal 20 Maret 1950 telah diterima masuk APRIS dan diterima sebagai komandan kompi dengan pangkat Kapten.
Akan tetapi setelah beberapa hari setelah pelantikannya Kapten Andi Azis mengerahkan pasukannya dengan didukung oleh Batalyon KNIL di Makasar yang tidak masuk APRIS, menawan Pejabat Panglima Teritorium Indonesia Timur, Letnan Kolonel Achmad Yunus Mokoginta beserta seluruh stafnya. Ketika itu Terintorium Indnesia Timur baru merupakan organisasi kerangka dengan kekuatan hanya satu peleton Polisi Militer, satu kompi rekrut dan staf terintorium.[18]
3.1. Latar Belakang Pemberontakan
Pemberontakan di bawah naungan Andi Azis ini terjadi di Makassar yang diawali dengan adanya konflik di Sulawesi Selatan pada bulan April 1950. Kekacauan yang berlangsung di Makassar ini terjadi karena adanya demonstrasi dari kelompok masyarakat yang anti federal, mereka mendesak NIT supaya segera menggabungkan diri dengan RI. Sementara itu di sisi lain terjadi sebuah konflik dari kelompok yang mendukung terbentuknya Negara Federal. Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya kegaduhan dan ketegangan di masyarakat.
Untuk menjaga keamanan di lingkungan masyarakat, maka pada tanggal 5 April 1950 pemerintah mengutus pasukan TNI sebanyak satu Batalion dari Jawa untuk mengamankan daerah tersebut. Namun kedatangan TNI ke daerah tersebut dinilai mengancam kedudukan kelompok masyaraat pro-federal. Selanjutnya para kelompok masyarakat pro-federal ini bergabung dan membentuk sebuah pasukan “Pasukan Bebas” di bawah komando kapten Andi Azis. Ia menganggap bahwa masalah keamanan di Sulawesi Selatan menjadi tanggung jawabnya.
jadi, dapat disimpulkan bahwa lata belakang pemberontakan Andi Azis adalah :
1.      Menuntut bahwa keamanan di Negara Indonesia Timur hanya merupakan tanggung jawab pasukan bekas KNIL saja.
2.      Menentang campur tangan pasukan APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) terhadap konflik di Sulawesi Selatan.
3.      Mempertahankan berdirinya Negara Indonesia Timur. [19]

3.2.     Akhir Pemberontakan
      Oprasi penumpasan RMS yang dilakukan olh Angkatan Prang Republik Indonesia Serikat atau Apris diawali dengan pendaratan merebut pulau Buru setelah operasi militer disana selesai, pasukan Gabungan kemudian Bergerak kearah timur dengan melakukan serangkaian penyerbuan melalui pendaratan di Piru, Seram, Banda, Tanbar, dan akirnya dipulau geser. [20]

           Untuk menanggulangi pemberontakan yang di lakukan oleh Andi Azis, pada tanggal 8 April 1950 pemerintah memberikan perintah kepada Andi Azis bahwa setiap 4 x 24 Jam ia harus melaporkan diri ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang sudah ia lakukan. Untuk pasukan yang terlibat dalam pemberontakan tersebut diperintahkan untuk menyerahkan diri dan melepaskan semua tawanan. Pada waktu yang sama, dikirim pasukan yang dipimpin oleh A.E. Kawilarang untuk melakukan operasi militer di Sulawesi Selatan.
Tanggal 15 April 1950, Andi Azis pergi ke Jakarta setelah didesak oleh Sukawati, Presiden dari Negara NIT. Namun karena keterlambatannya untuk melapor, Andi Azis akhirnya ditangkap dan diadili untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, sedangkan untuk pasukan TNI yang dipimpin oleh Mayor H. V Worang terus melanjutkan pendaratan di Sulawesi Selatan. Pada tanggal 21 April 1950, pasukan ini berhasil menguasai Makassar tanpa adanya perlawanan dari pihak pemberontak.
Pada Tanggal 26 April 1950, anggota ekspedisi yang dipimpin oleh A.E Kawilarang mendarat di daratan Sulawesi Selatan. Keamanan yang tercipta di Sulawesi Selatan-pun tidak berlangsung lama karena keberadaan anggota KL-KNIL yang sedang menunggu peralihan pasukan APRIS keluar dari Makassar. Para anggota KL-KNIL memprovokasi dan memancing emosi yang menimbulkan terjadinya bentrok antara pasukan KL-KNIL dengan pasukan APRIS.
Pertempuran antara pasukan APRIS dengan KL-KNIL berlangsung pada tanggal 5 Agustus 1950. Kota Makassar pada saat itu sedang berada dalam kondisi yang sangat menegangkan karena terjadinya peperangan antara pasukan KL-KNIL dengan APRIS. Pada pertempuran tersebut pasukan APRIS berhasil menaklukan lawan, dan pasukan APRIS-pun melakukan strategi pengepungan terhadap tentara-tentara KNIL tersebut.
Tanggal 8 Agustus 1950, pihak KL-KNIL meminta untuk berunding ketika menyadari bahwa kedudukannya sudah tidak menguntungkan lagi untuk perperang dan melawan serangan dari lawan. Perundingan tersebut akhirnya dilakukan oleh Kolonel A.E Kawilarang dari pihak RI dan Mayor Jendral Scheffelaar dari pihak KL-KNIL. Hasil perundingan kedua belah pihakpun setuju untuk menghentikan baku tembak yang menyebabkan terjadinya kegaduhan di daerah Makassar tersebut, dan dalam waktu dua hari pasukan KNIL harus meninggalkan Makassar.
Beberapa Kendala yang dihadapi APRIS selain Luasnya wilayah operasi APRIS, Beragam kendala ikut membatasi kiprah pasukan APRIS ketika mereka ditugaskan mernumpas pasukan RMS. Pasukan pemerintah pusat harus bertempur terpisah ratusan kilometer dari pangkalan induk mereka di Jawa. Kendala tersebut diperburuk dengan terjadinya keterbatasan dana dan sarana, berikut keragaman pasukan.[21]


3.3.   Dampak Pemberontakan
Pada tanggal 5 April 1950, anggota pasukan Andi Azis menyerang markas Tentara Nesional Indonesia (TNI) yang bertempat di Makassar, dan mereka pun berhasil menguasainya. Bahkan, Letkol Mokoginta berhasil ditawan oleh pasukan Andi Azis. Akhirnya, Ir.P.D Diapri (Perdana Mentri NIT) mengundurkan diri karena tidak setuju dengan apa yang sudah dilakukan oleh Andi Azis dan ia digantikan oleh Ir. Putuhena yang pro-RI. Pada tanggal 21 April 1950, Sukawati yang menjabat sebagai Wali Negara NIT mengumumkan bahwa NIT bersedia untuk bergabung dengan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
4. Pemberontakan RMS
Dalam rentetan pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia bekas KNIL dan pro Belanda, peristiwa selanjutnya terjadi di Maluku. Di Ambon pada tanggal 25 April 1950 dirumuskan berdirinya Republik Maluku Selatan yang terlepas dari Negara Indonesia Timur dan RIS, dibawah pimpinan Dr. Soumokil, bekas jaksa Agung Negara Indonesia Timur.
Proklamasi RMS itu sudah disiapkan secara matang oleh Soumukil dan kawan-kawannya. Dalam tahap persiapannya, Soumukil berhasil memindahkan pasukan KNIL dan pasukan Baret Hijau yang terlibat pemberontakan Andi Asis ke Ambon. Pasukan-pasukan khusus itulah yang menjadi tulang punggung perlawanan RMS. [22]
4.1. Latar Belakang Pemberontakan
              Republik Maluku Selatan (RMS) adalah daerah yang diproklamasikan merdeka pada 25 April 1950 dengan maksud untuk memisahkan diri dari Negara Indonesia Timur (saat itu Indonesia masih berupa Republik Indonesia Serikat). Namun oleh Pemerintah Pusat, RMS dianggap sebagai pemberontakan dan setelah misi damai gagal, maka RMS ditumpas tuntas pada November 1950. Sejak 1966 RMS berfungsi sebagai pemerintahan di pengasingan, Belanda.

4.2.   Jalannya Pemberontakan
Pada 25 April 1950 RMS hampir/nyaris diproklamasikan oleh orang-orang bekas prajurit KNIL dan pro-Belanda yang di antaranya adalah Dr. Chr.R.S. Soumokil bekas jaksa agung Negara Indonesia Timur yang kemudian ditunjuk sebagai Presiden, Ir. J.A. Manusama dan J.H. Manuhutu. Pemerintah Pusat yang mencoba menyelesaikan secara damai, mengirim tim yang diketuai Dr. J. Leimena sebagai misi perdamaian ke Ambon. Tapi kemudian, misi yang terdiri dari para politikus, pendeta, dokter dan wartawan, gagal dan pemerintah pusat memutuskan untuk menumpas RMS, lewat kekuatan senjata. Dibentuklah pasukan di bawah pimpinan Kolonel A.E. Kawilarang.
Pada 14 Juli 1950 Pasukan ekspedisi APRIS/TNI mulai menumpas pos-pos penting RMS. Sementara, RMS yang memusatkan kekuatannya di Pulau Seram dan Ambon, juga menguasai perairan laut Maluku Tengah, memblokade dan menghancurkan kapal-kapal pemerintah. Pemberontakan ini berhasil digagalkan secara tuntas pada bulan November 1950, sementara para pemimpin RMS mengasingkan diri ke Belanda. Pada 1951 sekitar 4.000 orang Maluku Selatan, tentara KNIL beserta keluarganya (jumlah keseluruhannya sekitar 12.500 orang), mengungsi ke Belanda, yang saat itu diyakini hanya untuk sementara saja.
RMS di Belanda lalu menjadi pemerintahan di pengasingan. Pada 29 Juni 2007 beberapa pemuda Maluku mengibarkan bendera RMS di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhono pada hari keluarga nasional di Ambon. Pada 24 April 2008 John Watilette perdana menteri pemerintahan RMS di pengasingan Belanda berpendapat bahwa mendirikan republik merupakan sebuah mimpi di siang hari bolong dalam peringatan 58 tahun proklamasi kemerdekaan RMS yang dimuat pada harian Algemeen Dagblad yang menurunkan tulisan tentang antipati terhadap Jakarta menguat. Tujuan politik RMS sudah berlalu seiring dengan melemahnya keingingan memperjuangkan RMS ditambah tidak adanya donatur yang bersedia menyisihkan dananya, kini hubungan dengan Maluku hanya menyangkut soal sosial ekonomi. Perdana menteri RMS (bermimpi) tidak menutup kemungkinan Maluku akan menjadi daerah otonomi seperti Aceh Kendati tetap menekankan tujuan utama adalah meraih kemerdekaan penuh.
4.3.      Akhir Pemberontakan
Dalam upaya penumpasan pemberontakan RMS, pemerintah berusaha untuk mengatasi masalah ini dengan cara berdamai. Cara yang dilakukan oleh pemerintah yaitu, dengan mengirim misi perdamaian yang dipimpin oleh seorang tokoh asli Maluku, yakni Dr. Leimena. Namun, misi yang diajukan tersebut ditolak oleh Soumokil. Selanjutnya misi perdamaian yang dikirim oleh pemerintah terdiri atas para pendeta, politikus, dokter, wartawan pun tidak dapat bertemu langsung dengan pengikut Soumokil.
Karena upaya perdamaian yang diajukan oleh pemerintah tidak berhasil, akhirnya pemerintah melakukan operasi militer untuk membersihkan gerakan RMS dengan mengerahkan pasukan Gerakan Operasi Militer (GOM) III yang dipimpin oleh seorang kolonel bernama A.E Kawilarang, yang menjabat sebagai Panglima Tentara dan Teritorium Indonesia Timur. Setelah pemerintah membentuk sebuah operasi militer, penumpasan pemberontakan RMS pun akhirnya dilakukan pada tanggal 14 Juli 1950, dan pada tanggal 15 Juli 1950, pemerintahan RMS mengumumkan bahwa Negara Republik Maluku Selatan sedang dalam bahaya. Pada tanggal 28 September, pasukan militer yang diutus untuk menumpas pemberontakan menyerbu ke daerah Ambon, dan pada tanggal 3 November 1950, seluruh wilayah Ambon dapat dikuasai termasuk benteng Nieuw Victoria yang akhirnya juga berhasil dikuasai oleh pasukan militer tersebut. [23]
Dengan jatuhnya pasukan RMS yang berada di daerah Ambon, maka hal ini membuat perlawanan yang dilakukan oleh pasukan RMS dapat ditaklukan. Pada tanggal 4 sampai 5 Desember, melalui selat Haruku dan Saparua, pusat pemerintahan RMS beserta Angkatan Perang RMS berpindah ke Pulau Seram. Pada tahun 1952, J.H Munhutu yang tadinya menjabat sebagai presiden RMS tertangkap di pulau Seram, Sementara itu sebagian pimpinan RMS lainnya melarikan diri ke Negara Belanda. Setelah itu, RMS kemudian mendirikan sebuah organisasi di Belanda dengan pemerintahan di pengasingan (Government In Exile).
 Pemberontakan Republik Maluku Selatan sudah berakhir tetapi masih ada beberapa orang yang masih mengakui RMS dan sampai detik ini RMS masih tetap eksis dan mempunyai presiden transisi bernama Simon Saiya.
4.4.      Dampak Pemberontakan
Pada Tahun 1978 anggota RMS menyandera kurang lebih 70 warga sipil yang berada di gedung pemerintahan Belanda di Assen-Wesseran. Teror tersebut juga dilakukan oleh beberapa kelompok yang berada di bawah pimpinan RMS, seperti kelompok Bunuh Diri di Maluku Selatan. Dan pada tahun 1975 kelompok ini pernah merampas kereta api dan menyandera 38 penumpang kereta api tersebut.

Pada tahun 2002, pada saat peringatan proklamasi RMS yang ke-15 dilakukan, diadakan acara pengibaran bendera RMS di Maluku. Akibat dari kejadian ini, 23 orang ditangkap oleh aparat kepolisian. Setelah penangkapan aktivis tersebut dilakukan, mereka tidak menerima penangkapan tersebut karena dianggap tidak sesuai dengan hukum yang berlaku. Selanjutnya mereka memperadilkan Gubernur Maluku beserta Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku  karena melakukan penangkapan dan penahanan terhadap 15 orang yang diduga sebagai propokator dan pelaksana pengibaran bendera RMS tersebut. Aksi pengibaran bendera tersebut terus dilakukan, dan pada tahun 2004, ratusan pendukung RMS mengibarkan bendera RMS di Kudamati. Akibat dari pengibaran bendera ini, sejumlah aktivis yang berada di bawah naungan RMS ditangkap dan akibat dari penangkapan tersebut, terjadilah sebuah konflik antara sejumlah aktivis RMS dengan Kelompok Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

5.      Pemberontakan DI TII
            Negara Islam Indonesia (disingkat NII; juga dikenal dengan nama Darul Islam atau DI) yang artinya adalah "Rumah Islam" adalah gerakan politik yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 (ditulis sebagai 12 Syawal 1368 dalam kalender Hijriyah) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat. Diproklamirkan saat Negara Pasundan buatan belanda mengangkat Raden Aria Adipati Wiranatakoesoema sebagai presiden.
            Gerakan ini bertujuan menjadikan Republik Indonesia yang saat itu baru saja diproklamasikan kemerdekaannya dan ada pada masa perang dengan tentara Kerajaan Belanda sebagai negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar negara. Dalam proklamasinya bahwa "Hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam", lebih jelas lagi dalam undang-undangnya dinyatakan bahwa "Negara berdasarkan Islam" dan "Hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan Hadits". Proklamasi Negara Islam Indonesia dengan tegas menyatakan kewajiban negara untuk membuat undang-undang yang berlandaskan syari'at Islam, dan penolakan yang keras terhadap ideologi selain Alqur'an dan Hadits Shahih, yang mereka sebut dengan "hukum kafir", sesuai dalam Qur'aan Surah 5. Al-Maidah, ayat 50.[24]
            Dalam perkembangannya, DI menyebar hingga di beberapa wilayah, terutama Jawa Barat (berikut dengan daerah yang berbatasan di Jawa Tengah), Sulawesi Selatan, Aceh dan Kalimantan. Setelah Kartosoewirjo ditangkap TNI dan dieksekusi pada 1962, gerakan ini menjadi terpecah, namun tetap eksis secara diam-diam meskipun dianggap sebagai organisasi ilegal oleh pemerintah Indonesia.
5.1. Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat ( Darul Islam/Tentara Islam Indonesia )
Pada tanggal 7 Agustus 1949 di suatu desa di Kabupaten Tasikmalaya ( Jawa Barat ). Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia. Gerakannya di namakan Darul Islam (DI) sedang tentaranya dinamakan Tentara Islam Indonesia ( TII ). Gerakan ini dibentuk pada saat Jawa Barat di tinggal oleh Pasukan Siliwangi yang berhijrah ke Yogyakarta dan Jawa Tengah dalam Rangka melaksanakan ketentuan dalam Perundingan Renville.
                Ketika pasukan Siliwangi berhijrah, gerombolan DI/TII ini dapat leluasa melakukan gerakannya dengan membakar Rumah – Rumah Rakyat, Membongkar Rel Kereta Api, menyiksa dan merampok harta benda penduduk. Akan tetapi setelah pasukan Siliwangi mengadakan Long March kembali ke Jawa Barat, gerombolan DI/TII ini harus berhadapan dengan pasukan Siliwangi.
                Usaha Untuk menumpas pemberontakan DI/TII ini memerlukan waktu yang lama disebabkan oleh beberapa faktor, yakni :
a.       Medannya berupa daerah pegunungan – pegunungan sehingga sangat mendukung pasukan DI/TII untuk bergerilya,
b.      Pasukan Kartosuwirjo dapat bergerak dengan leluasa di Kalangan Rakyat, Pasukan DI/TII mendapat bantuan dari beberapa orang Belanda, antara lain pemilik – pemilik perkebunan dan para pendukung negara Pasundan,
c.        Suasana Politik yang tidak stabil dan sikap beberapa kalangan partai politik telah mempersulit usaha – usaha pemulihan keamanan.
Selanjutnya dalam menghadapi aksi DI/TII pemerintah mengerahkan pasukan TNI untuk menumpas gerombolanini. Pada tahun 1960 pasukan Siliwangi bersama rakyat melakukan operasi “ Pagar Betis “ dan operasi “ Bratayudha “ Pada tanggal 4 Juni 1962 Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo beserta para pengawalnya dapat ditangkap oleh pasukan Siliwangi dalam operasi “ Bratayudha “ di Gunung Geber, daerah Majalaya, Jawa Barat. Kemudian Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo oleh Mahkamah Angkatan Darat dijatuhi hukuman mati sehingga pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dapa di padamkan.
5.2.       Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah.
  Gerombolan DI/TII ini tidak hanya di Jawa Barat akan tetapi di Jawa Tengah juga muncul pemberontakan yang didalangi oleh DI/TII. Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengha di bawah pimpinan Amir Fatah yang bergerak di daerah Brebes, Tegal, dan Pekalongan. Dan Moh. Mahfudh Abdul Rachman ( Kiai Sumolangu ). [25]
 Untuk menumpas pemberontakan ini pada bulan Januari 1950 pemerintah melakukan operasi kilat yang disebut “ Gerakan Banteng Negara “ ( GBN ) di bawah Letnan Kolonel Sarbini ( Selanjut – nya di ganti Letnan Kolonel M. Bachrun dan Kemudian oleh Letnan Kolonel A. Yani ). Gerakan operasi ini dengan pasukan “ Banteng Raiders “.
Sementara itu di daerah Kebumen muncul pemberontakan yang merupakan bagian dari DI/TII , yakni dilakukan oleh “ Angkatan Umat Islam ( AUI ) “ yang dipimpin oleh Kyai Moh. Mahudz Abdurachman yang dikenal sebagai “ Romo Pusat “ atau Kyai Somalangu. Untuk menumpas pemberontakan ini memerlukan waktu kurang lebih Tiga Bulan.

 Pemberontakan DI/TII juga terjadi di daerah Kudus dan Magelang yang dilakukan oleh Batalyon 426 yang bergabung dengan DI/TII pada bulan Desember 1951. Untuk menumpas pemberontakan ini Pemerintah melakukan “ Operasi Merdeka Timur “ yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto, Komandan Brigade Pragolo. Pada awal tahun 1952 kekuatan Batalyon pemberontak tersebut dapat dihancurkan dan sisa – sisanya melarikan diri ke Jawa Barat.
5.3.      Pemberontokan DI/TII di Aceh.
 Gerombolan DI/TII juga melakukan pemberontakan di Aceh yang dipimpin oleh Teuku Daud Beureuh. Adapun penyebab timbulnya pemberontakan DI/TII di Aceh adalah kekecewaan Daud Beureuh karena status Aceh pada tahun 1950 diturunkan dari daerah istimewa menjadi kresidenan di bawah Provinsi Sumatera Utara. Pada tanggal 21 September 1953 Daud Beureuh yang waktu itu menjabat sebagai Gubernur Militer menyatakan bahwa Aceh merupakan bagian dari Negara Islam Indonesa di bawah Pimpinan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiyo.
Dalam menghadapi pemberontakan DI/TII di Aceh ini semula pemerintah menggunakan kekuatan senjata. Selanjutnya atas prakarsa Kolonel M. Yasin, Panglima Daerah Militer 1/Iskandar Muda, Pada tanggal 17 – 21 Desember 1962 diselenggarakan “ Mustawarah Kerukunan Rakyat Aceh “ yang mendapat dukungan tokoh – tokoh masyarakat Aceh sehingga pemberontakan DI/TII di Aceh dapat dipadamkan.
5.4.  Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan.
  Di Sulawesi Selatan juga timbul pemberontakan DI/TII yang dipimpin oleh Kahar Muzakar. Pada tanggal 30 April 1950 Kahar Muzakar menuntut kepada pemerintah agar pasukannya yang tergabung dalam Komando Gerilya Sulawesi Selatan dimasukkan ke dalam Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat ( APRIS). Tuntutan ini ditolak karena harus melalui penyaringan.[26]
  Pemerintah melakukan pendekatan kepada Kahar Muzakar dengan memberi pangkat Letnan Kolonel. Akan tetapi pada tanggal 17 Agustus 1951 Kahar Muzakar beserta anak buahnya melarikan diri ke hutan dan melakukan aksi dengan melakukan teror terhadap rakyat.
 Untuk menghadapi pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan ini pemerintah melakukan Operasi Militer. Baru pada bulan Februari 1965 Kahar Muzakar berhasil ditangkap dan ditembak mati sehingga pemberontakan DI/TII di Sulawesi dapat dipadamkan.
5.5.      Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan.
Pada bulan oktober 1950 DI/TII juga melakukan pemberontakan di Kalimantan Selatan yang dipimpin oleh Ibnu Hajar. Para pemberontak melakukan pengacauan dengan menyerang pos – pos kesatuan TNI.
Dalam menghadapi gerombolan DI/TII tersebut pemerintah pada mulanya melakukan pendekatan kepada Ibnu Hajar dengan diberi kesempatan untuk menyerah, dan akan diterima menjadi anggota TNI. Ibnu Hajar pun menyerah, akan tetapi setelah menyerah melarikan diri dan melakukan pemberontakan lagi. Selanjutnya pemerintah mengerahkan pasukan TNI sehingga pada akhir tahun 1959 Ibnu Hajar beserta seluruh anggota gerombolannya pun tertangkap.


DAFTAR PUSTAKA
Soebandio, Hadi . 2002. Keterlibatan Australia dalam pemberontakan PRRI/PERMESTA. Jakarta : Gramedia
Pour, Julus. 2008. Ing. Slamet Rijadi dari mengusir Kempeitai sampai menumpas RMS. Jakarta: Gramedia. Hl. 5
Kahin, George. 1995. Nasionalisme dan Revolusi Indonesia. Surakarta: UNS Press
Lapian Dkk. 1996. Terminologi Sejarah Indonesia 1945-1950  1950-1969.
Riclefs. 1998. Sejarah Indonesia Modern. Jakarta: Gramedia
Kartasasmita, Ginanjar. 30 tahun Indonesia Merdeka. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan kebudayaan.
Http//www.google.com
Http//www.wikipedia,com.




[1] Kahin, George Mc’Lurnan . Nasionalisme dan Revolusi Indonesia. 1995: 576
[2] Lapian dkk. Terminologi Sejarah Indonesia 1945-1950 &1950-1969. 1996: 229
[3] Lapian dkk. Terminologi Sejarah Indonesia 1945-1950 &1950-1969. 1996: 229
[4] Lapian dkk. Terminologi Sejarah Indonesia 1945-1950 &1950-1969. 1996: 229
[5] Kahin, George Mc’Lurnan . Nasionalisme dan Revolusi Indonesia. 1995: 576
[6] Riclefs. Sejarah Indonesia Modern . 1998:351
[7] Kahin, George Mc’Lurnan . Nasionalisme dan Revolusi Indonesia. 1995: 577
[8] Kahin, George Mc’Lurnan . Nasionalisme dan Revolusi Indonesia. 1995: 577. Usaha ini tidak terlaksana karena Satu Batalyon pasukan RIS sudah bersiaga di dekat tempat itu.
[9] Riclefs. Sejarah Indonesia Modern . 1998:351
[10] Lapian dkk. Terminologi Sejarah Indonesia 1945-1950 &1950-1969. 1996: 154.      10.1. Dewan Banteng adalah sebuah dewan yang dibentuk oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein seorang Komandan  Resimen Infanteri 4 pada tanggal 20 Desember 1956.Anggotanya adalah para eks Divisi Banteng.  Latar belakang pembentukan adalah rasa kecewa beberapa daerah luar jawa terhadapa kebijakan politik, ekonomi pemerintahan pusat Jakarta akibatnya rakyat tidak lagi menaruh kepercayaan kepada Peerintah pusat.
10.2. Dewan Gajah adalah sebuah gerakan revolusioner yang dibentuk pada 22 desember 1956 oleh Panglima Tentara Teritorium I (TT I) Kolonel Mauludin Simbolon di Medan. Ia mengumumkan pernyataan bahwa mulai tanggal 22 Desember tidak mengakui lagi cabinet Ali Sastroamindjojo II dan untuk sementara melepaskan hubungan dengan pemerintahan Pusat. Latar belakangnya adalah ketidakpuasan terhadap kebijakan pembangunan yanghanya berpusat dijakarta saja.
10.3. Dewan Garuda didirikan pada 25 Januari 1957 di Sumara Selatan oleh Letnan Kolonel Berlian. Dewan Garuda dibentuk oleh sekelompok golongan politik bersama pimpinan militer setepat mencetuskan piagam pembangunan yang fungsinya menjadi wadah yang dapat menampung segala aspirasi daerah.
10.4. Dewan Manguni dibentuk pada 18 Februari 1957 di Menado oleh Letkol Samual. Latar belakang terbentuknya berawal dari suhu politik Indonesia yang memanas dengan pembentukan cabinet Ali Sastroamidjojo II. Ketidakpuasan disebabkan karena alokasi biaya pembangunan untuk Sulawesi Utara sangat jauh berbeda dengan daerah-daerah di Jawa terutama Jakarta.
[11] Departemen Pendidikan dak Kebudayaan. Terminologi Sejarah Indonesia 1945-1950 &1950-1969. 1996: 251.
[12] Lapian dkk. Terminologi Sejarah Indonesia 1945-1950 &1950-1969. 1996:247
[13] Riclefs. Sejarah Indonesia Modern . 1998:396
[14] Soebandio, Hadi . 2002. Keterlibatan Australia dalam pemberontakan PRRI/PERMESTA. Jakarta : Gramedia. Hlm. 226-227. 
[15] Riclefs. Sejarah Indonesia Modern . 1998:398
[16] Riclefs. Sejarah Indonesia Modern . 1998:397
[17][17] Riclefs. Sejarah Indonesia Modern . 1998:399
[18] Ginanjar Kartasasmita 30 Tahun Indonesia Merdeka 1950-1964:270
[19] Lapian dkk. Terminologi Sejarah Indonesia 1945-1950 &1950-1969. 1996: 239

[20] Pour, Julus. 2008. Ing. Slmater Rijadi dari mengusir Kempeitai sampai menumpas RMS. Jakarta: Gramedia. Hl. 5
[21] Pour, Julus. 2008. Ing. Slmater Rijadi dari mengusir Kempeitai sampai menumpas RMS. Jakarta: Gramedia. Hl. 6
[22] Ginanjar Kartasasmita 30 Tahun Indonesia Merdeka 1950-1964:274
[23] Ginanjar Kartasasmita 30 Tahun Indonesia Merdeka 1950-1964: 245
[24]  Ginanjar Kartasasmita 30 Tahun Indonesia Merdeka 1950-1964: 270
[25] Ginanjar Kartasasmita 30 Tahun Indonesia Merdeka 1950-1964: 265
[26] Ginanjar Kartasasmita 30 Tahun Indonesia Merdeka 1950-1964:270